Saturday, December 13, 2008

Wonderful Kazakstan

Taruh Ponsel Di Saku Celana Bikin Pria Mandul





Kebiasaan menempatkan telepon selular (ponsel) di saku celana ternyata dapat mempengaruhi kesuburan pada lelaki. Pasalnya, ponsel menghasilkan paparan medan elektrostatik dan elektromatik yang mengakibatkan ketidaksuburan (infertilitas) lelaki.

Hal tersebut disampaikan Prof.Dr.dr Wahyuning Ramelan SpAnd (Spesialis Andrologi) Brawijaya Women & Children Hospital, saat diskusi Mendambakan Punya Momongan, di Brawijaya Women & Children Hospital, Jakarta, Sabtu (13/12).

Saat ini, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa ponsel mengandung elektrostatik dan elektromagnetik. Menurut dr Ramelan, menaruh handphone di saku celana berpotensi lebih besar mengakibatkan infertilitas pada kaum lelaki karena berada lebih dekat dengan organ vital lelaki.

"Hindari taruh handphone di kantong celana. Lebih baik taruh di kantong baju atau pinggang. Di pinggang kan lebih jauh tempatnya. Dan kan lebih keren," kata dr Ramelan.

Selain itu, dr Ramelan menyebut komputer juga merupakan salah satu media penghasil elektrostatik dan elektromagnetik. Karena itu, katanya, berada terlalu lama di depan komputer akan mengakibatkan infertilitas pada lelaki.

"Jangan dari pagi hingga sore di depan komputer. Minimal 2 jam kemudian istirahat 1 jam," tutur dr Ramelan.

Upaya pencegahan infertilitas lelaki dapat dicegah dengan berbagai cara, antara lain dengan menjalani pola hidup sehat, makan-makanan yang bergizi baik, menambah antioksidan, vitamin C dan E, mengonsumsi suplemen, menghindari rokok, dan jangan sampai memperoleh Penyakit Menular Seksual (PMS).


Taken from: Kompas

Sunday, December 07, 2008

Wolter Mongisidi

Mongisidi adalah pahlawan nasional yang paling unik. Dia bukan seorang militer. Tidak menyandang pangkat kemiliteran apapun. Bukan pejabat negara yang punya kekuasaan atau bangsawan yang punya kharisma. Dia juga bukan tokoh masyarakat yang punya massa dengan kaitan emosional. Mongisidi ya Mongisidi. Seorang patriot yang tak punya apa-apa. Satu-satunya yang dia miliki hanya kehormatan. Kehormatan harga diri bangsanya yang dia bawa sampai mati.

Saya beruntung sekali, bisa mencium harumnya kepahlawanan Mongisidi dari pengalaman langsung orang tua saya. Kebetulan, ayah saya berkenalan serta berteman baik dengan Mongisidi, terutama di saat-saat akhir hayat pria Bantik (Minahasa) itu.

Tembak mati

Suatu malam ayah saya makan malam bersama Dr. Chris Soumokil, pendiri Republik Maluku Selatan bersama keluarganya di rumah ibu pejuang terkenal Sulawesi Selatan, Patta Kandjene, di Pare-Pare, sebuah kota di utara Sulawesi Selatan. Hari itu 5 September 1949. Setelah makam malam itu, ayah saya bergegas ke rumah dr. Soeparto. Dia seorang dokter yang banyak membantu kaum nasionalis yang cedera, kala melawan pendudukan NICA di kawasan Sulawesi Selatan.

Di rumah dr. Soeparto itu, berita kematian Mongisidi pertama kali diketahui umum, Ketika tengah malam, ayah saya menerima telepon dari sahabatnya, dr. Darjono, yang kelak menjadi perwira intelijen dalam operasi pembebasan Irian Barat yang dipimpin Soeharto (kemudian menjabat presiden RI). Suara dr. Darjono terdengar gugup dan datar, seolah ada yang sulit diungkapkan.

“Bote sudah mereka eksekusi…!”, kata dr. Darjono. Bote adalah nama akrab Wolter Mongisidi. Dia juga menambahkan, bahwa eksekusi dilakukan dini hari. Mendengar suara itu ayah saya langsung lemas dan sangat sulit untuk percaya. Lalu dia mendesak ayah saya untuk memberitahu kematian Mongisidi kepada Ibu Salawati dan Henk Rondonuwu. Keduanya tokoh pejuang Sulawesi Selatan.

Eksekusi mati Mongisidi membuat gempar kota Pare Pare, yang lama mengetahui sepak terjang heroiknya. Bahkan ketika kembali ke Makassar, masyarakat di sana sangat emosional dan eksplosif. Para tokoh kemasyarakatan dan parlemen Negara Indonesia Timur mendesak agara jenasah Mongisidi dipindah ke pemakaman kristen. Mereka marah!

Digali kembali

Melalui suatu kesepakatan dengan Belanda, kuburan Mongisidi digali kembali setelah 30 jam dieksekusi. Lokasi penggalian terletak di daerah Tallo. Sebuah tempat di luar kota Makassar. Tak sembarang orang diijinkan ikut penguasa Belanda. Ayah saya beruntung, bersama dr. Darjono dan seorang sahabat bernama Sangkala, serta beberapa orang lainnya, yang bisa ikut menyaksikan penggalian kembali. Tentunya tak lepas dari pengawasan beberapa perwira Koninklijke Landmacht, tentara kerajaan Belanda, serta seorang sersan Belanda berusia 35 tahun. Si sersan ini seorang algojo yang kerap hadir dalam penjagalan lawan-lawan Belanda. Suaranya serak dan berat yang mengekspresikan bisnisnya dengan pencabutan nyawa manusia.

Suasana penggalian begitu mencekam dan mendebat. Tanah yang masih lembab itu digali perlahan dan semua mata terpaku ke liang lahat. Ada juga menyaksikan seorang pendeta KNIL (tentara Hindia Belanda) yang kerap menggenggam Injil ditangannya. Ayah saya mencoba memberi isyarat kepada Sangkala supaya mengambil foto. Tapi langsung digubris dan dipelototi oleh si algojo dengan nada mengancam untuk menghancurkan kamera kami. Namun rekan ayah saya Darjono berhasil mendekati si algojo sehingga melunakan hatinya. Sejak itu sang algojo mau diajak bicara dan mulai buka mulut,

“Anda menyaksikan Mingisidi ditembak?”, tanya ayah saya kepada si algojo. Saat pertanyaan itu meluncur, seketika muncul sikapnya sebagai seorang prajurit sejati yang jujur dan obyektif. Dengan ekspresi menyeramkan, si algojo mengungkapkan perasaannya.

“Ik heb nooit in mijn leven zo’n brave kerel gezien”. “Belum pernah sepanjang hidup saya melihat orang sesatria dia”, si algojo mengaku. Ketika didesak mengapa dia berpendapat seperti itu. Dengan jujur dia menjelaskan, “Dia (Mongisidi) adalah seorang satria, seorang pemberani dan teguh dengan keyakinannya” Kata si algojo, Mongisidi tidak pernah menunjukkan ekspresi goyah atas apa yang ia percayai. Tak ada keraguan sedikitpun pada dirinya. Waktu matanya mau ditutup sehelai kain saat dieksekusi, Mongisidi menolak mentah-mentah. Bahkan dia tak mau tangannya diikat di tiang eksekusi seperti biasa seorang akan dieksekusi. Dia menatap penuh ketenangan para penembaknya. Matanya tak berkedip di saat-saat terakhir peluru menghancurkan tubuhnya.

Sebelum kedua belas anggota regu tembak menghentikan hidupnya, seorang pendeta Kristen sempat berdoa dengannya, Mongisidi mengucapkan terima kasih sambil memegang erat tangan sang pendeta sambil mengeluarkan beberapa kalimat ksatri. “Saya bersedia hadapi kenyataan ini dengan ketabahan dan keimanan”.

Si algojo bermuka bengis itu, juga mengungkapkan suatu fakta yang sulit dia terima. Menurut ceritanya, Mongisidi sempat mengucapkan kata-kata terakhir kepada regu tembak yang akan meremukkan tubuhnya. “Laksanakan tugas saudara-saudara. Saudara-saudara memang tidak bersalah, hanya melaksanakan tugas. Saya memaafkan saudara dan semoga uhan mengampuni dosa-dosa saudara!” Pernah seorang jaksa dari pengadilan Negara Indonesia Timur pernah datang ke sel tahanannya dan memberi tahu bahwa kedua orang tuanya telah meminta grasi. Syaratnya, Mongisidi harus menandatangai surat grasi itu.

Wat? Gratie? Ga naar de maan!”. Apa? Grasi? Persetan! Saya tidak membutuhkannya!, jawab Mongisidi dengan nada suara setengah berteriak.

Mendengar ucapan itu, si jaksa kaget dan membalikkan badannya sambil keluar dan memalingkan pandangannya kepada seorang kawannya,“Dat is pas een brave karel!”

Itu baru bilang pemuda satria sejati!

Tak ada suara mengerang keluar dari mulur Mongisidi ketika meluru mendentum serentak mencabut nyawanya. “Sungguh luar biasa! Saya hampir-hampir tidak percaya melihat orang semacam dia”, kata sersan algojo itu memuji musuhnya yang kuburannya sedang digali kembali.

*) Foto bersama di Kiskampement Makasar tanggal 20-4-1949 tempat Wolter Wobert Monginsidi (berdiri paling kiri) ditahan. Tampak ayahnya Petrus Monginsidi (duduk), Kakaknya, Joseph dan Jan Monginsidi.

Ayah saya melihat sendiri bagaimana kokohnya keteguhan seseorang akan kebenaran yang diyakininya , seperti yang dipertunjukkan saat mayat Mongisidi digali kembali. Wajah Mongisidi terlihat seperti tidur nyenyak dalam peti yang lembab. Jenazahnya tak menyebarkan bau yang tak sedap, Pakaiannya begitu sederhana. Kepala terbaring bukan diatas bantal, tetapi di atas Injil. Dalam kitab suci itu terselip secarik kertas bertuliskan. “Setia hingga terakhir didalam keyakinan. Tertanda 5 September 1949. RWM”. RWM adalah kependekan nama lengkapnya, Robert Wolter Mongisidi.

Orang awam jadi pahlawan nasional

Wolter Mongisidi membuktikan bahwa orang awam pun bisa jadi pahlawan, meskipun apa yang dia perbuat tak mengharapkan sesuatu pujian. Apalagi diberi gelar pahlawan nasional. Sebuah sebutan tertinggi untuk sebuah pengorbanan untuk negara.

Sampai sekarang susah menjumpai pahlawan nasional yang berasal dari kalangan awam. Pahlawan lebih dilihat sebagai pekerjaan yang dijalani seorang mantan pejabat negara, perwira militer atau kaum bangsawan, yang secara mampu melakukannya, karena dia punya otoritas untuk melakukannya.

Bung Tomo dan juga Mongisidi adalah contoh yang ingin membakukan pengertian pahlawan. Bahwa pahlawan adalah orang yang melakukan darma yang memang bukan pekerjaannya. Kalau saya membesarkan anak saya sampai berhasil, saya bukan pahlawan bagi keluarga. Memang seharusnya begitu. Pahlawan di Indonesia selalu diartikan sebagai tindakan heroik dalam arti kontak fisik dan membuat kebijakan politis yang menguntungkan Indonesia. Dan orang itu “harus suci” dari kesalahan manusiawi. Makanya pahlawan pasti orangnya sudah mati. Takut-takut kalau masih hidup bisa berbuat sesuatu yang melunturkan nilai heroic yang pernah dibuatnya.

Pahlawan jadi brand

Yang aneh sekarang adalah memori kita tentang pahlawan. Untuk mengenang jasa-jasa mereka, kita banyak dibantu dengan sebuah brand atau produk. Banyak yang tak tahu siapa Gajah Mada. Tapi siapa yang tak kenal Bak Mie Gajah Mada? Hampir semua tahu dan pernah makan di McDonal Sarinah Thamrin. Tapi siapa yang tahu perjuangan Sarinah dan siapa itu Thamrin?

Bayangkan kalau ada kalimat “McDonald Sarinah Thamrin, bukan cabang di Tendean sama di Halim. Letaknya antara Sudirman Tower dan Universitas Bung Hatta, berhadapan dengan Rasuna Imperium, di ujung Imam Bonjol, tak jauh dari ayam goreng Hayam Wuruk dan apotik Mongisidi”

*) Bandara Wolter Monginsi di terminal baru Bandar Udara Wolter Monginsidi, Kendari.

Untunglah kita masih mengenal nama pahlawan dari brand atau nama jalan. Pak Harto pernah melarang penggunaan pahlawan menjadi nama brand. Tapi upaya itu mulai luntur seiring dengan kejatuhannya. Memang ada beberapa tokoh yang berwasiat agar namanya tidak diabadikan untuk sebuah penamaan jalan atau bangunan. Namun itu tak bisa membendung keinginan masyarakat untuk mengenangnya.


Taken from www.kompas.com

Jakarta in The Eyes of Foreigners



Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles
belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become
the cultural centers of gravity in Jakarta, the fourth largest city in
the world. In between towering super-structures, humble kampongs house
the majority of the city dwellers, who often have no access to basic
sanitation, running water or waste management.

While almost all major capitals in the Southeast Asian region are
investing heavily in public transportation, parks, playgrounds,
sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and
convention centers, Jakarta remains brutally and determinately
'pro-market' profit-driven and openly indifferent to the plight of a
majority of its citizens who are poor.

Most Jakartans have never left Indonesia, so they cannot compare their
capital with Kuala Lumpur or Singapore; with Hanoi or Bangkok .
Comparative statistics and reports hardly make it into the local media.
Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign
visitors a 'hell on earth,' the local media describes Jakarta as
"modern," "cosmopolitan, " and "a sprawling metropolis."

Newcomers are often puzzled by Jakarta's lack of public amenities.
Bangkok, not exactly known as a user-friendly city, still has several
beautiful parks. Even cash-strapped Port Moresby, capital of Papua New
Guinea, boasts wide promenades, playgrounds, long stretches of beach and
sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in
building wide sidewalks, green areas as well as cultural establishments.
Manila, another city without a glowing reputation for its public
amenities, has succeeded in constructing an impressive sea promenade
dotted with countless cafes and entertainment venues while preserving
its World Heritage Site at In tramuros. Hanoi repaved its wide sidewalks
and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air sculpture museum.

But in Jakarta, there is a fee for everything. Many green spaces have
been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The
approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real
public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime
city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal point
being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty beach
dotted with private businesses.

Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend
approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in entrance fees,
something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public
parks which survived privatization are in desperate condition and mostly
unsafe to use.

There are no sidewalks in the entire city, if one applies international
standards to the word "sidewalk." Almost anywhere in the world (with the
striking exception of some cities in the United State, like Houston and
Los Angeles) the cities themselves belong to pedestrians. Cars are
increasingly discouraged from travelling in the city centres. Wide
sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and
efficient forms of short-distance public transportation in areas with
high concentrations of people.

In Jakarta, there are hardly any benches for people to sit and relax,
and no free drinking water fountains or public toilets. It is these
small, but important, 'details' that are symbols of urban life anywhere
else in the world.

Most world cities, including those in the region, want to be visited and
remembered for their culture. Singapore is managing to change its
'shop-till-you- drop' image to that of the centre of Southeast Asian
arts. The monumental Esplanade Theatre has reshaped the skyline,
offering first-rate international concerts in classical music, opera,
ballet, and also featuring performances from some of the leading
contemporary artists from the region. Many performances are subsidized
and are either free or cheap, relative to the high incomes in the city-state.

Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which
is located right under the Petronas Towers , among the tallest buildings
in the world. This impressive and prestigious concert hall hosts local
orches tr a companies as well top internationalperfor mers. The city is
currently spending further millions to refurbish its museums and
galleries, from the National Museum to the National Art Gallery .

Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major
at tr action millions of visitors flock into the city to visit countless
galleries stocked with canvases, which can be easily described as some
of the best in Southeast Asia. Its beautifully restored Opera House
regularly offers Western and Asian music treats.

Bangkok's colossal temples and palaces coexist with ex tr emely
cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless
performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as
well as authentic culinary delights from all corners of the world. When
it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in
Southeast Asia as vibrant as Manila .

Now back to Jakarta. Those who have ever visited the city's 'public
libraries' or National Archives building will know the difference. No
wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to
be 'profitable' (with the exception of pop music), and are therefore
made absolutely irrelevant. The country spends the third lowest amount
in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent
of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is
now rapidly improving with the new progressive government).

Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no
important international exhibitions. They look like they fell on the
city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of
them. Not only are their collections poorly kept, but they lack elements
of modernity there are no elegant cafes, museum shops, bookstores or
even public archives. It appears that the individuals running them are
without vision and creativity. However, even if they did have inspired
ideas, there would be no funding to carry them out.

It seems that Jakarta has no city planners, only private developers that
have no respect for the majority of its inhabitants who are poor (the
great majority, no matter what the understated and manipulated
government statistics say). The city abandoned itself to the private
sector, which now controls almost everything, from residential housing
to what were once public areas.

While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to fully
eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their urban
areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens subsidized,
affordable housing equipped with running water, electricity, a sewage
system, wastewater tr eatment facilities, playgrounds, parks, sidewalks
and a mass public transportation system.

Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants
boasts one metroline (Putra Line), one monorail, several efficient Star
LRT lines, suburban tr ain links and high-speed rail system connecting
the city with its new capital Putrajaya. The "Rapid" system counts on
hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is
subsidized; a bus ticket on "Rapid" costs only $.60 (2 Malaysian
Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted
daily and monthly passes are also available.

Bangkok contracted German firm Siemens to build two long "Sky Train"
lines and one me tr o line. It is also utilizing its river and channels
as both public transportation and as a tourist attraction. Despite this
enormous progress, the Bangkok city administration claims that it is
building an additional 50 miles (80 kilometers) of tracks for these
systems in order to convince citizens to leave their cars at home and
use public transportation. Polluting pre-historic buses are being banned
from Hanoi, Singapore , Kuala Lumpur and gradually from Bangkok.
Jakarta, thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own
league even in this field.

Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of
life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South
Asian cities, below metropolises like Nairobi and Medellin .

Considering that it is in the league with some of the poorest capitals
of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human
Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most
expensive city in the world for expatriate employees, well above Berlin
(72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is
expensive for expa tr iates, how is it for local people with a GDP per
capita below $1,000?

Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling
air quality just as they have gotten used to the sight of children
begging, even selling themselves at the major intersections; to entire
communities living under elevated highways and in slums on the shores of
canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to
floods and rats.

But if there is to be any hope, the truth has to eventually be told, and
the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis can lead to
treatment and a cure. As painful as the truth can be, it is always
better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades behind
capitals in the neighbouring countries in aesthetics, housing, urban
planning, standard of living, quality of life, health, education,
culture, transportation, food quality and hygiene. It has to swallow its
pride and learn from Kuala Lumpur, Singapore, Brisbane and even in some
instances from its poorer neighbours like Port Moresby, Manila and Hanoi.

Comparative statistics have to be transparent and widely available.
Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand
answers and accountability. Only if they understand to what depths their
city has sunk can there be any hope of change. "We have to watch out,"
said a concerned Malaysian filmmaker during New Year's Eve celebrations
in Kuala Lumpur. "Malaysia suddenly has too many problems. If we are not
careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like Jakarta!"

Could this statement be reversed? Can Jakarta find the strength and
solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur? Can decency
overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by creativity?
Can private villas shrink in size and green spaces, public housing,
playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?

An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only
the people of Jakarta can offer the answers and solutions.

Andre Vitchek* *Worldpress. org contributing editor*

Sunday, July 13, 2008

Thesis Research













Solar Cell as a Renewable Energy Source for Water Supply in Nusa Penida


Bali is a province of Indonesia, that consist of the main island (Pulau Bali) and some smaller islands. One of these islands is Nusa Penida, which is located between Bali (west) and Lombok (east). The population is around 50,000 people, and the area is 2,000 square kilometer, with high topology, steep rocky stones and cliffs, dry barrend land, and lime stone soil textures. No rivers flow in this island, except few water springs. That’s why most of the population really rely on rain water source and reservoirs for their daily activities, crops, and farming.

Most of the population work as farmer, fisherman, merchant, and laborer. The natural potential of this island are: seaweeds, farming (cow, pig, and goat), fishery, and agriculture (coconut, corn, green bean, peanut, sweet potato, and the other dry field crops). But up to the moment, Nusa Penida is still one of the poorest region in Bali, because of the lack of access (water, electricity, transportation, and telecommunication) to/with the main island

The water problem in Nusa Penida mainly caused by the water spring location, that is near the canyon at the bank of the sea, no rivers flowing, and only rely on rain water reservoirs. With the increase of the world oil price, the water price (by PDAM, Indonesian water company) is keep increasing as high as Rp 100,000-120,000 or US$ 11-13 per 5,000 litre, which is very expensive for the people with average income Rp 2,45 million/year per capita (US$ 267/year per capita).

My thesis research will be the water supply/procurement using free renewable energy (solar cell and panel) that will be used to generate electricity for the water pumps at the water springs, and leave the electricity excess for the public use, crops, and farmings. I’ve also started to read and try to find references on solar cell and solar panel as a free renewable energy source.

Other than that, will be analysed the environtmental effect (gaseous emissions) of these free energy source compared with the current power plant using diesel fuel (PLN grid, the government electrical company). Also will include the financial aspect, the Return of Investment (ROI), bill savings, and general savings, that can be used to develop the society to a more useful sectors.

References:
1. Bali Post, July 7, 2008. www.balipost.co.id
2. Bali Post, July 2, 2008 www.balipost.co.id
3. Bali Post, June 16, 2008. www.balipost.co.id
4. Bali Post, January 18, 2007. www.balipost.co.id
5. Bali Post, April 8, 2003. www.balipost.co.id
6. www.zigma.wordpress.com , December 20, 2006
7. www.id.wikipedia.org
8. www.seputar-indonesia.com, July 6, 2008
9. www.esdm.go.id, July 3, 2008
10. www.mbojo.wordpress.com , August 22, 2007
11. www.indoalert.blogspot.com , June 15, 2008
12. www.klungkungkab.go.id , November 24, 2007
13. www.pplh.unud.ac.id , April 10, 2008

Sunday, February 10, 2008

Songs of heavenly romance

Friday, February 08, 2008

Bali Divine Spirits

The spirit of "Rwa Bhineda" the two eternal difference. Kindly visit My Flickr to enlarge the view






Landscape of Bali

"Asta Kosala Kosali, Asta Bhumi" the Balinese Feng Shui of architectural and structural landscape. Visit My Flicker for larger view




Sunday, January 06, 2008

Balinese Architecture

Some samples of Balinese architecture (location: Bali Institute of Art, Denpasar). Visit My Flickr for larger views.



Taken from: Flicker

Saturday, January 05, 2008

Office

Well dude, here's my office. Attire's quite moderate here rather than SIK. I can use jeans on Friday, and short sleeve all time.
Here's my new half bold hair



Taken from: Friendster

Sunday, December 30, 2007

A Walk at Central Market KL

Hahahaha.... another holiday. Had a walk to Central Market.
First plan was to find pirated DVD softwares, but cant find, really dissaponted. So, just have lunch at Mamak (Indian food), eat chicken burgers (local), ais potong (local ice cream), just having fun.... and lookin' for girls (quite asurd to get one).

Listen to local musician playin' on the street (seems Indonesian), and people sometimes just sit and listen to their melodies. As usual, with my half bold hair, boot cut pant, and small sized t-shirt...cool enough though...

Back to Pantai Dalam (my apartment) by LRT Trans (train) to KL Sentral
(Central of all KL's transport system; bus, taxi, train, monorail, even
to airport). Then by bus to Pantai Dalam (U74-the bus number).
Here some pic from e:

Khmer Divine

Friday, December 28, 2007

Weekend

Wah.... another weekend, free out of duties...
Yesterday, got my hair cut. Actually, it's short enough, don't like the style though, so near bald I had now, 1/2 cm or less.
Today, Friday, went to office with my boot cut jeans and short sleeved shirt. Feel pretty relax at work.

A sales engineer come to the office, explain bout planetary gear he's saling, that our design can't really match the gear:
1. The ratio couldn't be 1:1, usually the outer ring has 300 rpm max but high torque.
2. The heat generated will be overwhelmed if we apply 1500 rpm, especially 3000 relative rpm
3. The gear is so smooth, that pretty easy to defect, can cause a serious noise and vibration
But he gace us idea to use a special 1:1 customed planetary gear. Want to know? We'll discuss it at office by Monday. Hey, Tuesday we're free again.... Happy New Year...

Yesterday also a startin' day to the UM's gym. Feel happy with the complete facilities. Plan to go everyday 7-9 pm after work.
I feel I've managed to adapt my work and tasks already. Yesterday, presentation and brainstorming design, I can show my knowledge of calculating and drawing sketches.

But today, the office secretary resign, after 4 months work. Kak Ros, maybe feel pretty bored at her lonely desk.
Also sent email to M98, bout M department of ITB, bou our lectures. They respond me petty well.
Thanks guys

Tuesday, December 25, 2007

Christmast Holiday

Ah... just an ordinary holiday, got nothing to do. Tomorrow gotta work again, will be my second week at Sync R&D, Damansara.
Bad day today, motorcycle run out of gas, went buy a liter of gas, pour it... still can't start....damn what a day.
ah... now still trackning a route for bus, tomorrow will use it instead of my god damned motor.

With bus to LRT Universiti, the to Kelana Jaya, with bus again to Sri Damansara (taxi maybe)....whatever.
Got to evaluate the new task for the engineering project tomorrow.

Ah... what a work, still no clues what to do.... just a new junior.. watching doing nothing..... yet
Hopefully will be much better next week.
Ah... sleepy though

Tuesday, February 20, 2007

Surat Kepada Teman

Saya sudah enam tahun tinggal di Bandung, Jawa Barat, di daerah pusat kota. Pada tahun ketiga (sekitar 2001) ada seorang Bali bernama Bli Gede Baru. Saya sebut begitu karena usianya tiga tahun lebih tua dari saya, datang dari Yogya seorang diri, bukan dengan menumpang bus atau kereta api, tapi dengan bersepeda, ya....bersepeda gayung.

Kami bertemu di Asrama Mahasiswa Bali Otten. Di sana kami ngobrol dengan teman-teman sesama mahasiswa Bali yang tinggal di Bandung. Bli Gede bercerita bahwa dirinya bersepeda dari Yogya (karena kuliah di sana), lalu menuju Bandung. Perjalanannya akan dilanjutkan ke Jakarta, yang selanjutnya menuju Pantura dan akan berakhir di Bali. Dia bersepeda dalam usaha meminta dukungan dana kepada para donatur yang ada di daerah-daerah tadi, untuk renovasi Pura yang berlokasi di daerah Gunung Kidul Yogyakarta.

Yang paling membuat saya terharu adalah kondisinya yang (maaf) cacat fisik. Untuk berjalan Bli Gede memerlukan bantuan sebuah tongkat kaki, karena ketidaksempurnaan kondisi kaki kanannya. Tapi walau begitu, dia dapat mengayuh sepeda dengan baik, tentu saja dengan membawa serta tongkat kakinya ke mana-mana bersama sepedanya.

Bli Gede mengisahkan perjalanannya dari Yogya, menyusuri jalan-jalan sepi sendirian di malam hari. Kadang terlintas rasa takut di benaknya ketika melewati daerah kuburan yang sepi sendirian di malam hari. Halangan lain yang dia hadapi adalah ketika di jalan tanjakan. Bli Gede terpaksa turun dari sepeda, menuntun sepedanya, sambil berjalan dengan bantuan sebuah tongkat kaki. Bahkan celananya sampai aus (bubul-bahasa Bali) karena lamanya bersepeda. Di tengah perjalanan dia biasa menginap di rumah penduduk yang dengan simpatik menerima kehadirannya, atau bahkan menginap di pos/kantor polisi. Bli Gede dalam perjalanannya hanya membawa beberapa set pakaian, sebuah tas punggung, tongkat kaki, surat pengantar, dan sepeda Federalnya.

Terakhir saya ditelepon oleh Bli Gede, katanya sudah sampai di Jakarta. Sampai saat ini, saya tidak mendengar lagi kabar darinya, apakah sudah di Yogya lagi atau masih di Bali.

Saya sangat terkesan dan kagum dengan semangat hidup Bli Gede. Kondisi fisik tidak menjadi halangan baginya untuk mengabdikan hidupnya bagi kepentingan orang lain. Saya juga seorang biker (suka bersepeda), saya mengerti sekali letihnya bersepeda jarak jauh, apalagi sampai antar pulau, dengan kondisi fisik yang tidak sempurna pula.

Bli Gede telah berbuat sesuatu bagi umat Hindu di Gunung Kidul, apakah kita yang diberi kesempurnaan fisik ini bisa melakukan Dharma seperti yang dilakukan Bli Gede?

I Kadek Suparta
Asrama Mahasiswa Bali Otten
Bandung
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/2/20/s2.html

KTP di Gilimanuk

Saya sudah enam tahun di Bandung, pulang ke Bali satu semester atau kadang setahun sekali, lewat jalan darat melalui gerbang Bali, yaitu Gilimanuk.

Sejak tragedi bom Bali, pemeriksaan pendatang di gerbang-gerbang masuk Bali diperketat, diantaranya dengan pemeriksaan KTP, termasuk pula di Gilimanuk. Pemeriksaan masih dilakukan sampai sekarang (terakhir saya pulang tahun baru 2005), akan tetapi ternyata terjadi kecolongan pada pemeriksaan KTP tersebut.

Apabila pendatang begitu turun dari ferry penyeberangan langsung naik ojek, maka ia akan secara otomatis luput dari pemeriksaan KTP yang dilaksanakan petugas. Pengendara ojek biasanya langsung menjemput penumpang yang turun dari ferry dan menawarkan jasanya. Penumpang ini akan dibawa memutar tanpa melewati pos pemeriksaan KTP.

Kalau tujuan Pemda untuk mengawasi dan membatasi para pendatang tanpa identitas menuju Bali, maka hal ini adalah suatu kecolongan, yang bahkan mungkin sudah terjadi sejak aturan pemeriksaan ini diterapkan.

Mohon kepada pihak yang terkait untuk lebih memperketat lagi sistem pemeriksaan, dan kepada para pengendara ojek untuk tidak mengelabui petugas yang akhirnya hanya akan merugikan kepentingan bersama.

I Kadek Suparta
Asrama Mahasiswa Bali Otten,
Bandung

Pengelolaan Sampah di Tangkuban Perahu

Saya telah beberapa kali melakukan cross country (jalan kaki) dari gerbang kawasan wisata Tangkuban (Cikole) sampai ke Kawah Ratu untuk sekedar refreshing. Kesan yang saya peroleh adalah pengelolaan sampah di kawasan ini buruk dan kurang mendapat perhatian dari pengelola kawasan hutan.

Berikut adalah kondisinya:
1. Terdapat beberapa lokasi penimbunan sampah (organik dan nonorganik) di dekat gerbang masuk Kawah Domas. Sampah-sampah ini ditimbun begitu saja di jurang tepi jalan.
2. Jumlah tong sampah di kawasan Kawah Ratu sangat sedikit, dan tanpa memiliki TPA.
3. Para pedagang di Kawah ratu membuang sampah di kawasan hutan di belakang warung mereka, tanpa memiliki TPA bersama.
4. Para pengunjung membuang sampah sembarangan di kawasan puncak, maupun selama perjalanan dari gerbang Cikole sampai Kawah.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena kawasan Kawah merupakan objek wisata yang dikunjungi tidak hanya oleh masyarakat Jawa Barat, tapi juga pendatang luar kota. Hutan Tangkuban juga merupakan habitat bagi sejumlah kera yang mendiami hutan daerah Kawah Ratu dan Kawah Upas. Kawasan ini juga merupakan tempat mencari nafkah bagi masyarakat di sekitar Cikole dengan berdagang atau jasa wisata.

Saran yang mungkin harus diperbaiki oleh Pemda pengelola kawasan, adalah:
1. Membersihkan timbunan sampah di tepi-tepi jurang (jurang ini tidak terlalu terjal dan tidak dalam)
2. Membuat TPA sementara untuk sampah para pedagang dan pengunjung, kemudian dipindahkan ke suatu lokasi pengolahan akhir.
3. Menyediakan lebih banyak tong-tong sampah di kawasan Kawah Ratu, Kawah Upas, dan di lokalisasi pedagang.

Untuk pengunjung dan para pedagang, marilah kita jaga bersama-sama kebersihan kawasan Kawah. Kawasan wisata ini milik kita bersama, kita mencari rejeki di kawasan ini, kita juga mencari ketenangan dan refreshing di kawasan ini, mengapa kita memperlakukannya begitu buruk (buang sampah sembarangan dan mencoret-coret batu)? Marilah kita mulai dari sekarang, dan harus dimulai dari diri sendiri.

I Kadek Suparta
Cisitu Lama VA 160B Bandung

Pura Goa Lawah


I Kadek Suparta / 28-08-2005

TOPIK : Pelanggaran Tata Krama Ngeranjing Di Pura Goa Lawah
ASPIRASI :Seringnya Pelanggaran Tata Krama Ngeranjing Di Pura Goa Lawah

Om Swastyastu,
Pura Goa Lawah Merupakan Salah Satu Kahyangan Jagat Yang Terdapat Di Kabupaten Klungkung. Tapi Sebagai Sebuah Kahyangan Jagat, Penghormatan Terhadap Nilai-nilai Kesakralan Di Pura Goa Lawah Sangatlah Rendah.

Pengunjung Dapat Seenaknya Ngeranjing Ke Utama Mandala Pura,, Seperti:• Hanya Memakai Selendang, Dengan Tetap Bercelana Panjang• Kaum Wanita (tamu Dan Turis) Yang Tidak Jelas Apakah Sedang Cuntaka (datang Bulan)• Berlalu-lalang, Berdiri Berfoto-foto, Sementara Ada Krama Yang Duduk Bersembahyang. Akankah Hal Seperti Ini Terus Dibiarkan?

Saya Sudah Mengamati Terjadinya Hal Ini Semenjak Beberapa Tahun Yang Lalu. Tulisan Saya Tentang Pelanggaran Tata Krama Di Pura Goa Lawah Sudah Pernah Dimuat Bali Post Beberapa Semester Lalu, Namun Tanggapan Dari Pemda Klungkung Sampai Saat Ini Belum Juga Terealisasi. Perhatian Dari Pemda Klungkung Sangatlah Kurang Terhadap Pelestarian Nilai-nilai Kesakralan Di Pura Goa Lawah. Hal Ini Terlihat Dari Tidak Tegasnya Pengaturan Ngeranjing Pura. Para Guide Yang Umumnya Orang Bali, Malah Membiarkan Saja Hal Yang Memalukan Ini Terjadi.

Menurut Saya Ini Adalah Suatu Kesalahan Yang Sangat Besar, Bahwa Pemda Sebagai Aparat Yang Berwenang Sampai Membiarkan Pura Kahyangan Jagat Menjadi Ajang Bisnis Dan Membiarkan Kesakralannya Terabaikan. Seharusnya Tamu Dan Turis Yang Tidak Akan Bersembahyang Dilarang Keras Ngeranjing Sampai Ke Utama Mandala Pura. Kalau Mau Ngeranjing, Hanya Boleh Sampai Madya Mandala, Dan Itupun Harus Memakai Kain Lengkap Dengan Selendang. Sangat Menyedihkan Melihat Ketika Ada Krama Yang Sedang Duduk Bersembahyang, Tiba-tiba Diganggu Oleh Tamu Domestik Yang Bercelana Panjang, Berlalu-lalang Berdiri Berfoto-foto Dengan Cuek Mengabaikan Ada Krama Yang Sedang Duduk Bersembahyang Di Sebelahnya. Saya Merasa Emosi Melihat Hal Ini Terjadi, Namun Tidak Berdaya. Apakah Saya Harus Marah Kepada Tamu Tersebut, Padahal Harus Menahan Amarah Di Areal Pura? Kalau Saya Memberi Tahu Satu Orang Tamu, Bagaimana Dengan Tamu-tamu Yang Lainnya? Akhirnya Saya Hanya Diam Seribu Bahasa, Sambil Meratap Sedih Di Dalam Hati.

Yang Terhormat Pemda Klungkung, Kalau Memang Tidak Bisa Mengelola Dengan Baik Pura Kahyangan Jagat Goa Lawah, Serahkan Saja Tanggung Jawabnya Kepada Krama Desa Goa Lawah, Tentunya Dengan Pengelolaan Retribusi Yang Diserahkan Pula Tanggung Jawabnya Kepada Krama Desa, Namun Dengan Tetap Memperhatikan Kewajiban Retribusi Ke Pemda. Dengan Cara Seperti Ini, Saya Yakin Bahwa Krama Desa Akan Mengelola Pura Dengan Baik, Secara Sekala Maupun Niskala, Dan Pemda Pun Tetap Mendapat Retribusi Dari Keberadaan Pura Sebagai Obyek Wisata. Terima Kasih, Dan Mohon Maaf Atas Segala Kekurangan Saya.

Om Shanti…Shanti…Shanti…Om

I Kadek Suparta
Jl. By Pass Ngurah Rai 73 Kedonganan, Kuta-Bali
mailto:kadeksuparta@yahoo.com) 705 692 - 081 7027 2346

TANGGAPAN :
Trima kasih atas sumbang sarannya. Hal akan kami sampaikan kepada instansi terkait dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung untuk memberi tanggapan lebih lanjut.



http://www.klungkung.go.id/main.php?go=kritik_list&id=17

Pemda Bali

Perbaikan Bali Dimulai dari Pemda

Saya hendak meneruskan sebuah surat dari pembaca Bali Post edisi Jumat 5 Januari 2007 tentang Bali. Tiga tahun lalu saya pernah ke Prancis, saya sempat bertanya kepada seorang warga mengenai Bali. Dia menjawab bahwa Bali adalah impian setiap orang di Prancis. Saya merasa sangat bangga mendengar jawaban ini.
---------

Saya juga membaca sebuah buletin edisi Oktober 2006 dari KBRI Kuala Lumpur, bahwa menurut hasil survai sebuah majalah pariwisata terkenal di Amerika, Bali terpilih sebagai daerah tujuan wisata nomor satu dari warga negara Paman Sam ini.


Institusi saya juga mendapat kunjungan dari seorang guru di Perth, Australia. Saya tanyakan pula tentang Bali, dia menjawab Bali adalah daerah tujuan utama dari warga Australia (saya rasa semua warga Bali sudah mengetahui hal ini). Dia juga menjawab bahwa bagi warga Australia, Bali adalah Sister City (Kota Kembar, menganggap seperti rumah sendiri) dari Australia. Masih banyak lagi komentar positif dan kekaguman yang kita dengar mengenai Bali, baik di TV, media cetak, ataupun perorangan.


Tetapi di balik semua kebanggaan itu, saya merasakan kekecewaan, bahwa Pemda Bali, komponen pariwisata, dan sebagian warga seakan tidak menyadari potensi yang dimilikinya. Pemda, komponen pariwisata, dan sebagian masyarakat seakan lupa bahwa payuk jakan berada pada industri pariwista, mereka tidak berusaha untuk berinvestasi dan memelihara untuk masa depan pemeliharaan aset wisata Bali, baik sumber daya manusia, sumber daya alam dan budaya. Semua diekspos dan dieksploitasi tanpa memperhatikan batas-batas yang harus dipatuhi demi pelestarian sumber daya itu sendiri.


Warga Bali sebenarnya sudah bisa mengelola daerahnya sendiri secara otonom (banjar, desa adat) tanpa bantuan pemda. Tapi, antardesa adat perlu bersatu dalam visi misi yang sama, dan terkoordinasi satu sama lain untuk pemeliharaan sumber daya Bali. Fungsi inilah yang seharusnya diperankan pemda sebagai aparat pemersatu pemerintahan-pemerintahan adat di Bali. Tetapi bagaimana kenyataannya? Pemda-pemda hanya sebagai aparatur atasan yang terlepas (disfungsi, disorder) dari masyarakat adat yang seharusnya dinaunginya, bahkan institusi gubernur hanya sebuah posisi mandul yang selama ini tidak berperan signifikan dalam pengembangan dan konservasi Bali. Seharusnya gubernur dijabat oleh seorang yang proaktif dan bervisi kerakyatan, yang berusaha membina Bali yang kian terpecah-pecah ini.


Jadi menurut saya, perbaikan Bali harus dimulai dari pemda, terutama gubernur yang visioner dan merakyat. Dengan kepemimpinan yang solid dan produktif, otomatis pemerintahan-pemerintahan adat akan lebih terorganisir dan bersatu menuju masa depan Bali.

I Kadek Suparta

Sekolah Indonesia Kuala Lumpur

Jl. Lorong Tun Ismail No. 1KL 50480, Malaysia

Monday, September 25, 2006

Resume

I KADEK SUPARTA, ST

Office:
Jalan Ara SD 7/3B Bandar Sri Damansara, Malaysia
Cell:
+60-122415904
e-mail:
kadeksuparta@yahoo.com
Website:
www.suparta.co.cc
Holiday:
JL. By Pass Ngurah Rai 73 Kedonganan-Kuta 80361 Bali-Indonesia
+62(361)705692

Experiences:
· Sulzer Hickham Indonesia, Cikampek-West Java
Job trainee, January 2004-February 2004
- Study the reparation and services on Terry Steam Turbine

- Took part on turbomachines maintenance

· PT. Daya Adira Mandiri, Bandung-West Java
Engine tune up trainee, August 2000
- Study the engine light services on motorcycle

- Took part on motorcycle tune up

· KSS Student College, Bandung-West Java
Part time teacher, September 2004-Present
- Teaching high school Math and Physics

- Private teaching of junior high school student

· Tri Mulia High School, Bandung-West Java
Part time teacher, Nov’ 2004-January 2005
- Teaching high school Math

· Pasundan 3 High School, Cimahi-West Java
Part time teacher, March’ 2005-May’ 2005
- Teaching high school Math

· SMUN 4 Denpasar, Denpasar-Bali
Full time teacher, May’ 2005-present
- Teaching English based Math for high school


Skills:
· Platform
Windows 9x/XP, MS Office Applications
· Mechanical Engineering CAD

· AutoCAD R14/2000
5 years of practical experience on 2D drawings and sketching
· Solid Work 2001
1 year of practical experience on 3D drawings and assembly
· MSC Visual Nastran
1 year of practical experience on 3D animations and visual FEA
· Application
Macromedia Flash, animation software
· Teaching
Class and private teaching of junior and senior high school student
· Senior High School
1 year experience of teaching Math, Physics, Chemistry
· Junior High School
9 months experience of teaching Math and Physics

Managing and Project Leaderships:
· Balinese Dance Course
Leader of Balinese Dance Course
Bandung-West Java 2000

· Hindu Student Society
Chancellor of weekly member meeting
ITB-West Java 1999

· United Student Society
Chancellor Member of campus orientation for new students
ITB-West Java 1999

· Mechanical Engineering Student Society
Project Leader of graduate celebration
ITB-West Java 1999

· Mechanical Engineering Student Society
Board Member of new member recruitment
ITB-West Java 1999

· Balinese Dance Course
Project Leader of annual performance
Bandung-West Java 1999

· Balinese Art Student Society
Leader of new member recruitment and training
ITB-West Java 1999


Volunteer Experiences:
· Balinese Art Performance, West Europe
Dancer, July 2002
Hold traditional dance and musical performance in France and Germany

· Motorcycle Light Engine Tune Up, Bandung-West Java
Mechanic, July 2000
Hold and took part on car and motorcycle engine light tune up

· Nasional High School, Bandung-West Java
Part time teacher, May 2004
Hold discussions and teaching high school Math

· Balinese Art Student Society, ITB-West Java
Trainer, 1999-2004
Train Balinese music instruments, and dances to the new members


Educations:
· Bandung Institute of Technology,
ITB-West Java, July 2004
Bachelor degree of Mechanical Engineering

· State Senior High School 4 Denpasar
Denpasar-Bali, 1995-1998
· State Junior High School 1 Kuta
Kuta-Bali, 1992-1995
· State Elementary School 1 Kedonganan
Kuta-Bali, 1986-1992

Scientific Institutional Publications:
· Bachelor Degree Thesis
ITB-West Java, June 2004
Title : Desain dan Konstruksi Boneka Mekanik dengan Software Gambar Solid
Objective: Virtual designing and constructing a human skeleton mechanical puppet
Abstract : Virtual designing of human skeleton mechanical puppet using mechanical CAD (AutoCAD 2000, and Solid Work 2001), virtually animated using MSC Visual Nastran, and continued by mechanical construction actuated with DC motors and electrical controls

· Job Trainee Report
Cikampek-West Java, January 2004
Title : Inspeksi dan Perbaikan Rotor Turbin Uap Terry Model 104-JT (P-3/4)
Objective: Observe the inspections and maintenance of Terry Steam Turbine
Abstract : Observing the overall maintenance of turbomachinery equipment (compressors, gas and steam turbines, pumps, and casing), especially Terry Steam Turbine, including; inspections, repair, assembling, and packaging

· Entrepreneurship Assignment
ITB-West Java, December 2004
Title : Peluang Bisnis Boneka Mekanik
Objective: Observe and analyse the business opportunity of mechanical puppet production

· Mechanical Elements Assignment I
ITB-West Java, July 2003
Title : Desain dan Kalkulasi Turbin Air Microhydro
Objective: Recalculate and analyse the engineering specifications of Microhydro Water Turbine

· Mechanical Elements Assignment II
ITB-West Java, December 2003
Title : Desain dan Pembuatan Kendaraan Mini Tenaga Jet
Objective: Design and construct a mini waterjet powered vessel

· Mechanical Design Assignment
ITB-West Java, December 2003
Title : Desain dan Konstruksi Topeng Gajah Mekanik
Objective: Design and mechanical analysis of mechanical elephant mask

· Bahasa Indonesia Assignment
ITB-West Java, December 1999
Title : Pengaruh Pupuk NPK dan Urea terhadap Pertumbuhan Kecambah
Objective: Observe and analyse the influence of Urea and NPK fertilizer on soybean growth

References:
· Prof. Dr. Ir. Indra Nurhadi
Bachelor degree thesis chancellor
Computational Laboratory
Mechanical Engineering, Bandung Institute of Technology
· Prof. Dr. Ir. Komang Bagiasna
Bachelor degree education chancellor
Dynamics Laboratory
Mechanical Engineering, Bandung Institute of Technology

Awards:
· Semi final contestant
STKIP Singaraja-Bali, 1997
Olympic of Senior High School Chemistry of Bali Province

· Contestant
Udayana University-Bali, 1996
Olympic of Senior High School Physics of Bali Province

· Final, 3rd position
EEC Denpasar-Bali, 1996
English of Senior High School of Denpasar Regency


Languages:
· Bahasa Indonesia
Mother tongue, fluent speaking and writing
· English
TOEFL Grade 576 held by ITB (Institutional)
· Reading comprehension: 59
· Listening comprehension: 58
· Structure & written expression: 56

Activities:
· Balinese Arts

Gamelan (Balinese traditional musical instruments), dances, language and letter, painting and drawing
· Sports

Mountain bike, cross country walking, karate, fitness, jogging, swimming
· Teaching

Teacher of English based Math at SMUN 4 Denpasar

Individual Datas
:
· Born: Kuta-Bali, February 26, 1980
· Religion: Hindu
· Family
I Komang Weka :Brother
I Wayan Berata :Father
Ni Made Sukarmi :Mother
· Address
JL. By Pass Ngurah Rai 73 Kedonganan, Kuta-Bali 80361 Indonesia
+62(361)705692